Satu Aplikasi untuk Semua yang Kamu Minati

#SelaluLebihTau

Download Kurio
Sekarang, Gratis!

InfoKomputer Online

Senjakala Mangga Dua

Aguam berdiri di depan tokonya yang tampak sepi. Mata pria ini sempat berbinar melihat kami mendatangi tokonya. Namun binaran itu berubah menjadi senyuman getir ketika kami menyebutkan maksud kedatangan kami: membahas kondisi Mangga Dua saat ini. "Sudah tidak ada yang dibahas mas" ujar pengelola toko Digisoft Computer Point yang berada di Dusit Mangga Dua tersebut.

Aguam sendiri sudah 18 tahun menggeluti industri PC. "Saya dan teman-teman dulu bareng pindah ke sini pas tahun 1998" tambah Aguam. Ia pun sempat merasakan manisnya berbisnis di Mangga Dua, ketika pembeli menyesaki kawasan tersebut di hari biasa apalagi hari libur. Namun kini ia menunjuk deretan toko di sekelilingnya yang telah tutup.

Kisah Aguam di atas mewakili toko-toko di Mangga Dua saat ini. Tempat yang pernah menjadi pusat komputer terbesar di Indonesia itu kini tampak merana. Banyak toko yang tutup, termasuk toko yang lokasinya strategis dan dulu selalu jadi rebutan pedagang.

Toko yang buka pun tampak sepi pengunjung. Food court yang dulu sangat ramai saat makan siang, kini hanya diisi segelintir penjual. Siang itu, selasar Mangga Dua Mal menggelar pameran aneka produk komputer. Di pojokan tampak banyak orang berkerumun, namun ironisnya mereka di sana hanya untuk menonton film yang diputar di sebuah smart TV.

Kondisi itu pun diamini Dyan Arifin, humas asosiasi pedagang komputer di Mangga Dua Mal. Ketika kami tanya jumlah penjual komputer saat ini dibanding masa jayanya dulu, pria yang akrab dipanggil Ten Ten ini menjawab "Mungkin tinggal 40%". Sedangkan Muzzakir, Sekjen Apkomindo, menunjuk fenomena ini tidak hanya terjadi di Mangga Dua, namun juga seluruh Indonesia. Sebagian ada yang mengecilkan ukuran bisnis, dari sebelumnya 10 toko menjadi 1-2 toko saja. Sebagian lagi memutuskan "menyerah" dan keluar dari bisnis retail komputer.

Salah satu yang memutuskan untuk mundur adalah Oscar Gumalia. "Saya dulu punya 18 toko seluruh Jakarta, 6 di antaranya di Mangga Dua" cerita pria yang pernah menjawab Ketua Asosiasi Penjual Komputer Indonesia (Apkomindo). Namun satu demi satu, tokonya tutup. Kini ia lebih memilih menjadi supplier produk IT untuk segmen perusahaan. "Saya termasuk gelombang pertama yang cabut. Yang sekarang ada ini mungkin gelombang terakhir yang nafasnya sudah sesak" tambah Oscar dengan nada prihatin.

Masa Keemasan

Di era 90an, pusat komputer sebenarnya berada di kawasan Glodok. Namun ketika terjadi kerusuhan 1998, kawasan Glodok hancur total. Para pedagang komputer yang sebelumnya memiliki toko di Glodok pun harus mencari tempat baru. Sebagian ke kawasan Gajah Mada Plaza, sebagian ke Ratu Plaza, namun sebagian besar pindah ke kawasan Mangga Dua.

Seorang pedagang komputer senior yang tak mau disebut namanya (kita sebut saja Budi), ingat betul kisah tersebut. "Dulu tempat ini bagian dari Hotel Dusit" kenang Budi yang telah 30 tahun bergelut di bidang IT. Mayoritas kios terkait bisnis perhotelan seperti travel dan tiket. Namun karena tidak terlalu laku, banyak tempat yang kosong. Hal itu yang menjadikan Dusit Mangga Dua dan Mangga Dua Mal paling siap menjadi tempat "penampungan" pedagang komputer.

"Awalnya toko komputer di sini 38 toko, namun kemudian toko [industri lain] tergeser sehingga akhirnya jadi mal komputer" tambah Budi.

Tak butuh lama, kawasan Mangga Dua pun langsung dikenal sebagai pusat komputer. Pembeli perorangan maupun reseller menjadikan Mangga Dua sebagai tujuan utama. Gurihnya industri IT kala itu menimbulkan gairah besar di kawasan Mangga Dua. Tahun 2005, Mangga Dua Square berdiri. Tahun 2010, menyusul WTC Mangga Dua dengan luas mencapai 22 ribu m2.

Namun semakin padatnya kawasan Mangga Dua menghasilkan masalah pelik: kemacetan. "Orang jadi malas ke Mangga Dua. Butuh setengah hari untuk ke sini" ungkap Aguam. Di saat bersamaan, sentra penjualan komputer pun menyebar ke berbagai pojok ibukota dan daerah. Pembeli rela membayar sedikit lebih mahal daripada harus bersusah-payah ke Mangga Dua. Popularitas Mangga Dua pun perlahan menyusut.

Kondisi Terjepit

Tanda-tanda penurunan sebenarnya sudah lama terdeteksi. "Sudah terasa turun sejak 2005" jawab Aguam. Sedangkan Oscar menunjuk ke lima tahun lalu. "Penjualan retail di tahun 2009 dan 2010 itu mencatat angka tertinggi" ungkap Oscar. Namun ada perbedaan mendasar dari dua tahun tersebut. Tahun 2010, margin keuntungan pedagang turun drastis. Alasannya adalah kala itu banyak toko baru yang dibuka sehingga pengusaha terpaksa menurunkan margin keuntungan. Tahun 2011, margin kian terkoreksi ketika modern retail pun mulai menjual perangkat komputer. Tahun 2012, tidak cuma margin yang anjlok, namun juga volume penjualan.

Oscar melihat, perubahan dari dua sisi telah menjepit bisnis penjual komputer. Di sisi konsumen, mereka kini memiliki lebih banyak kanal untuk berbelanja. Selain menyebarnya sentra komputer di berbagai titik, toko kanal modern seperti Electronic Solutions, Best Denki, bahkan Carrefour pun mulai menjual perangkat PC. "Saat ini orang tidak keberatan membeli barang dengan harga lebih tinggi asal nyaman" tambah Oscar. Belakangan, perkembangan e-commerce pun semakin memudahkan orang untuk berbelanja produk elektronik tanpa harus ke Glodok atau Mangga Dua.

Perubahan kedua adalah di sisi perangkat. Berbagai data menunjukkan penjualan perangkat komputer menurun, sebaliknya penjualan smartphone dan tablet kian melesat. Data menunjukkan, tahun 2014 ini volume penjualan PC desktop turun 34%, sementara laptop turun 10%. Hal ini selaras dengan data global yang menunjukkan turunnya eksistensi PC di mata konsumen.

Ketika perubahan pola penggunaan perangkat itu terjadi, kubu pengusaha komputer sebenarnya sempat mendapat bagian. "Layar besar menjadi milik pengusaha IT, layar kecil menjadi milik pengusaha ponsel" tambah Oscar. Namun teknologi terus berkembang dan membuat batas antara smartphone dan tablet menjadi kabur. Segmentasi berbasis layar pun menjadi tidak relevan lagi, dan penjualan smartphone dan tablet pun akhirnya condong ke arah kubu pengusaha ponsel.

Ke Online

Di pojokan Mangga Dua Mal, tiga pemuda tampak sibuk membungkus harddisk, memori, dan berbagai perangkat komputer lain. Seorang pemuda lainnya tampak serius mengamati layar komputer yang menampilkan Whatsapp versi browser. Mereka semua adalah karyawan sebuah toko yang menawarkan produk PC via online marketplace. "Kita menjualnya lewat Tokopedia" ungkap Iwan, sang pengelola toko.

Penjualan via online kini memang menjadi alternatif bagi sebagian penjual Mangga Dua. Para pedagang ini mencoba bermain di penjualan online memanfaatkan marketplace maupun membuat situs sendiri. "Hampir semua pedagang komputer kini menjajakan produknya secara online" ungkap Muzakkir. Sedangkan Ten Ten menunjuk Enter Computer, Quantum Computer, dan Virajaya yang kini memiliki toko online yang cukup sukses.

Selain menambah kanal, para pengusaha Mangga Dua sebenarnya juga mencoba melakukan diferesiansi produk. Kamera digital (versi kompak maupun DSLR) sempat menjadi primadona, namun penjualan kamera mencapai puncaknya tahun 2013. Kini pasarnya stagnan bahkan cenderung turun. Kini harapan tertumpu pada pasar smartphone yang masih seksi itu. "Apalagi vendor smartphone dan tablet sebelumnya juga pemain IT, seperti Samsung, Sony, Acer, atau Asus" tambah Muzakkir.

Namun tantangan memang tidak mudah. Bagi Aguam, menjual smartphone tidak prospektif. "Marginnya tipis, dan harganya bisa turun cepat sekali" tambah Aguam. Sedangkan menurut Oscar, bargain power kubu pengusaha komputer kalah jauh dibanding pengusaha ponsel. "Jumlah pemain tradisional IT di Indonesia itu sekitar 8 ribu, sementara pemain handphone 110 ribu" ungkap Oscar mengutip data tahun 2012. Alhasil ketika produsen smartphone ingin melakukan penetrasi pasar, mereka lebih memilih jalur pengusaha ponsel dibanding pengusaha komputer.

Karakteristik pengusaha komputer juga sedikit berbeda dibanding pengusaha ponsel. "Satu toko komputer biasanya terdiri dari tiga orang" tambah Oscar. Satu orang sebagai kepala toko, satu orang menjadi teknisi, satu orang lagi bagian penjualan. Padahal di toko ponsel, semua fungsi itu dipegang satu orang. Semua urusan teknis dan administrasi cukup ditangani satu orang. "Orang IT kalah lincah di situ" tambah Oscar.

Bisakah Kembali?

Depok Town Square, pertengahan tahun 2012. Apkomindo mengundang InfoKomputer untuk berbicara di depan pengusaha komputer di pusat penjualan komputer di Depok tersebut. Di depan belasan pemilik toko, InfoKomputer banyak bercerita mengenai maraknya penggunaan kamera CCTV, smartphone, sampai wearable devices. Dari penuturan peserta diskusi, sebenarnya mulai terkuak perubahan pola konsumen.

Acara itu sendiri adalah bagian dari kampanye Apkomindo untuk mendorong pengusaha komputer memperluas portofolio produknya ke perangkat yang sedang trend. "Saya melakukan kampanye itu sejak tahun 2010" ungkap Oscar yang kala itu masih menjadi Ketua Apkomindo. Ia berkeliling ke banyak cabang Apkomindo di seluruh Indonesia, mengingatkan trend teknologi yang akan segera berubah ke industri pendukung. Namun kampanye itu pun ternyata kurang efektif. "Banyak yang memilih menunggu, namun akhirnya tergulung perubahan" tambah Oscar.

Oscar juga melihat lembaga survei memiliki andil terhadap ketidaksiapan itu. "Pasar notebook baru diakui turun tahun 2013, padahal sudah terjadi tahun 2011" tambah Oscar. Tidak cuma penjual, para produsen PC pun terbilang gagal mengantisipasi perubahan tersebut. Oscar menunjuk produsen Jepang yang kini tinggal menyisakan Toshiba. "NEC, Sharp, dan Sony sudah hilang" tambah Oscar.

Oscar bahkan mengeluarkan prediksi berani: hanya akan satu merek dari AS, Tiongkok, dan Taiwan yang bisa bertahan. "Di dunia IT, winners takes all" tambahnya. Dengan pasar yang terus mengecil, tidak ada ruang bagi pemain nomor dua untuk bertahan. Fyi, saat ini AS masih memiliki dua nama (Dell, dan HP), Tiongkok tinggal Lenovo, sementara Taiwan tersisa Acer dan Asus.

Gairah berjualan perangkat komputer pun kini mulai hilang. "Saya pernah berkata ke orang principal kalau jualan komputer itu lebih susah dibanding jualan sabun" cerita Budi. Kalau beli sabun, konsumen tinggal beli dan proses selesai. Sedangkan berjualan komputer, penjual harus memberikan garansi 1 tahun. "Kalau komputernya rusak atau kena virus saja, pembeli balik ke toko dan pake marah-marah" tambah Budi.

Lalu, apakah ada kesempatan Mangga Dua untuk kembali? Menurut Oscar, harapannya sudah sirna. Soal kesempatan untuk migrasi ke pasar perangkat pendukung, memang memungkinkan. "Namun dari 100 penjual, mungkin hanya 3-5 orang yang bisa masuk ke pasar itu" ungkap pria yang hobi travelling tersebut. Sisanya harus bertahan dengan kenyataan pasar yang terus mengecil.

Namun Oscar menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. "Analoginya mirip seperti toko cetak foto dulu" tambah Oscar. Oscar mencontohkan kawasan Roxy jaman dulu yang kiri dan kanan jalannya penuh dengan toko foto. "Kini, hanya sedikit yang tersisa" tambah Oscar.

Sosok yang masih bertahan mungkin seperti Ten Ten yang masih menyimpan keyakinan. "Saya tetap optimis, karena Indonesia adalah pasar yang sangat besar" ungkap Ten Ten. Sedangkan Muzzakir menyarankan pedagang saat ini fokus dengan produk yang masih dicari konsumen. "Jangan terlalu banyak menumpuk stok yang perkembangannya cepat, tetap berikan dan perbaiki mutu pelayanan, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait" ungkap Muzzakir. Aguam pun tetap optimis meski dengan nada pasrah. "Ya kita lihat saja, semoga kondisi membaik" ungkap pria ini.

Sedangkan Budi dengan jujur berkata "Kalau tutup, karyawan saya dikemanain?"

Comments

LIHAT ARTIKEL ASLI
Baca di App Kurio
BACA SELENGKAPNYA
Baca di App Kurio